Kamis, 25 Mei 2017

Laporan Akhir

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti mendapati sampah-sampah plastik di jalanan maupun di dalam ruangan. Sampah plastik tersebut jika tidak diolah dengan baik maka bisa menyebabkan banjir dan memunculkan berbagai sumber penyakit. Hal tersebut sudah dirasakan warga Jakarta bertahun-tahun, terutama didaerah pinggiran. Selain banjir, banyak penyakit yang muncul dan menyerang warga, terutama didaerah pinggiran. Warga yang tinggal disana biasanya membuang sampah di kali dan melakukan kegiatan sehari-harinya disana, yang menyebabkan penyakit seperti diare bisa terjangkit.
Dalam rangka meminimalisir sampah plastic, sekarang banyak didirikan komunitas yang bergerak didalam bidang daur ulang sampah plastik. Kegiatan ini selain mengurangi sampah plastic yang dibuang, juga bisa menguji kreatifitas dalam membuat suatu karya. Barang-barang baru yang dihasilkan dari proses daur ulang ini kemudian bisa dijual sehingga bisa menghasilkan uang. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun juga banyak yang tertarik dengan bidang ini karena bisa menggunakan barang-barang plastic dirumah serta belajar bagaimana menggunakan dan memanfaatkan barang.
Dalam rangka mengikuti kelas Character Building: Kewarganegaraan tahun ajaran genap 2016/2017, kami diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan daur ulang dengan Komunitas Warga Peduli Lingkungan.

PERMASALAHAN
Kurangnya kesadaran akan lingkungan, membuat banyak sekali orang-orang yang suka membuang sampah tanpa memilihannya terlebih dahulu, dan tidak sedikit juga yang suka buang sampah sembarangan dijalan. Walaupun sudah banyak papan peringatan dan tempat sampah diperbanyak, hal tersebut tidak dihiraukan oleh masyarakat. Hal ini bisa berdampak langsung terhadap kehidupan manusia dan bisa  menjadi salah satu penyebab penyakit-penyakit yang akan muncul.

METODE KEGIATAN
Kami melakukan daur ulang dengan menggunakan bahan yang sudah disediakan oleh Bu Ros, salah satu pengrajin aktif WPL. Kami hanya perlu membawa diri, akan tetapi jika mempunyai banyak sampah plastik boleh dibawa untuk di daur ulang bersama. Tentunya sudah dibersihkan dan dikelompokan sehingga mudah untuk mencari ide untuk di daurnya. Kegiatan dilakukan kurang lebih 2 jam dan bertempat di rumah Bu Ros di daerah depok selama 5 hari.

KONSEP DAN TEORI
Kegiatan ini akan dilaksanakan dihari libur dimana semua anggota kelompok bisa melakukan kegiatan ini bersama-sama. Kami akan mendaur ulang sampah plastik dengan kemampuan yang kami miliki serta dengan bimbingan pengrajin dari komunitas WPL. Alat dan bahan akan kami bawa jika ada sampah plastic dirumah, lalu akan kami bawa ketempat pengrajin untuk diolah.

PELAKSANAAN
Peran aktif masyarakat untuk mengolah sampah bisa dibilang belum terlalu banyak, maka dari itu kami bekerja sama dengan Komunitas Warga Peduli Lingkungan (WPL) untuk melakukan kegiatan tersebut, berikut daftar hari dimana kami melakukan kegiatan bersama komunitas WPL:

1.      Survey dan perijinan
Hari: Jumat, 10 Maret 2017
Waktu: 14.00 – 13.00
Tempat: Komunitas WPL

                Kami datang berkunjung ke rumah Pak Baron untuk yang pertama kalinya untuk survey lokasi dan perijinan. Pada awalnya kami sedikit tersesat karena mengikuti jalan yang salah di google maps, akan tetapi setelah kami menelpon pak Baron dan mengkonfirmasi lokasi yang benar, baru akhirnya kami sampai ketempat tujuan. Sesampainya disana kami memperkenalkan diri lalu menjelaskan maksud kedatangan kami. Pak Baron juga menjelaskan tentang kegiatan apa saja yang ada di komunitas ini serta menampilkan video profile tentang Komunitas WPL agar kami dapat lebih memahami tentang komunitas ini

Apa itu Komunitas WPL ?
                 Komunitas ini awalnya ingin memberdayakan kemampuan atau skill yang dimiliki oleh ibu rumah tangga yang ada di sekitar rumahnya. Tujuan asli dari dibentuknya komunitas ini adalah ingin merubah perilaku masyarakat agar lebih peduli dengan lingkungan dan menjadi lebih produktif dengan cara mendaur ulang sampah-sampah plastik rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai dan bisa bermanfaat. Selain mendaur ulang, komunitas ini juga memiliki kegiatan lain seperti, mengadakan taman baca di taman kota dan membuat makanan.
                  Setelah kami menjelaskan maksud kedatangan kami dan setelah Pak Baron menjelaskan tentang kegiatan apa saja yang ada di komunitas ini, kami kemudian diberikan info tentang pengrajin yang aktif yang dapat kami hubungi untuk langsung membuat janji bertemu. Kami juga diberitahu bahwa pada hari Selasa, 14 Maret 2017, akan ada acara sosialisasi tentang daur ulang di SDIT Darul Abiddin pada pukul 9-12 siang, dan Pak Barun mengundang kami untuk ikut dalam kegiatan tersebut.

2.      Kegiatan daur ulang (membuat kerajinan dari sampah rumah tangga)
Hari: Jum’at, 14 Maret 2017
Waktu: 11.00 – 13.00
Tempat: Komunitas WPL

                    Pada hari ini, kami mengikuti kegiatan yang Pak Baron sudah jelaskan di SDIT Darul Abiddin. Sebelumnya kami diberitahu bahwa kegiatan tersebut akan dimulai pada pukul 9 namun ternyata terdapat perubahan waktu menjadi pukul 1 siang. Akhirnya kami sampai sekitar pukul 1 siang namun pada saat kami sampai di sana, suasana terlihat sangat sepi seperti tidak ada acara sama sekali. Kemudian kami mencoba bertanya kepada satpam mengenai kegiatan tersebut namun satpam itu pun juga tidak mengetahui tentang kegiatan tsb. Lalu kami mencoba menghubungi Ibu Wulan (istri Pak Baron) namun nomor tersebut tidak aktif dan akhirnya kami mencoba menghubungi Pak Baron untuk menanyakan tentang kegiatan tsb. 
                      Akhirnya setelah susah payah kami berhasil menemukan Ibu Wulan dan kami langsung diajak ke salah satu kelas untuk ikut dalam kegiatan sosialisasi daur ulang tersebut. Disini kami membuat jepit kupu-kupu dan mempelajari langkah awal untuk membuat bando.

3.      Kegiatan daur ulang (membuat kerajinan dari sampah rumah tangga)
Hari: Jum’at, 17 Maret 2017
Waktu: 13.00 – 15.00
Tempat: Komunitas WPL

            Hari ini kami mengunjungi rumah Bu Ros, salah satu pengrajin Komunitas WPL yang aktif. Kami membuat janji untuk bertemu dengan ibu Ros pada pukul 10 pagi. Sesampainya di sana, kami berkenalan satu persatu kemudian langsung melakukan proses daur ulang menggunakan bekas bungkus kopi. Kami diajari untuk membuat gantungan kunci, jepit rambut, dan juga bando.
Pertama, Bu Ros mengajari kami membuat bentuk dasar, yaitu dadu. Untuk membuat sebuah gantungan kunci, diperlukan 3 buah bentuk dadu yang kemudian disambung atau dianyam menggunakan benang pancing dan juga jarum berukuran besar menjadi satu kesatuan. Setelah ketiga dadu tersebut sudah tersambung barulah dipasang gantungannya. Setelah itu kami membuat jepitan. Caranya lebih mudah daripada membuat gantungan kunci. Kita cukup membuat bentuk dasar untuk membuat dadu, kemudian di jepitkan dengan jepitan rambut yang masih polos. Kami juga membuat bandana, caranya sama dengan membuat dasar dari dadu, akan tetapi anyamannya tidak berhenti sampai 6 kotak untuk membuat dadu, diteruskan sampai seukuran panjangnya bando polos yang akan digunakan. Kemudian direkatkan dengan melilitkan benang pancing disepanjang anyaman dan bando polos tersebut.

4.      Kegiatan daur ulang (membuat kerajinan dari sampah rumah tangga)
Hari: Kamis, 23 Maret 2017
Waktu: 13.00 – 16.00
Tempat: Komunitas WPL

              Pada pertemuan ke-3 kami mulai membuat produk baru yaitu dengan menganyam sampah bungkus kopi yang dibuat untuk sarung tisu atau tas. Kami memulai pertemuan pada jam 1 siang karena pada pagi harinya Bu Ros harus menghadiri pengajian terlebih dahulu. Pertama-tama kami diajarkan cara untuk mencari sisi mana yang cocok untuk dibuat pola yang bagus, kemudian cara menggunting, mengganjalnya dengan kertas undangan yang sudah tidak terpakai, dan kemudian dilipat dengan rapih. Setelah itu kami diajarkan untuk menyambung potongan-potongan tersebut seperti foto dibawah. Untuk membuat 1 tas dibutuhkan kurang lebih 80-160 bungkus kopi. 
 Karena kami masih dalam proses belajar dan menganyam atau membuat kerajinan tangan termasuk hal baru bagi kami, maka prosesnya pun sedikit lambat. Berbeda dengan Bu Ros yang sudah cekatan dalam mencari pola, mengguntik, melipat, dan menyambungkan potongan-potongan tersebut. 2 jam pun sepertinya masih kurang untuk kami membuat 1 baris anyaman, karena dibutuhkan ketepatan ukuran yang mungkin paling sulit untuk dibuat dalam proses ini. Karena jika ukurannya tidak sama, hal tersebut dalam mempengaruhi kerapihan serta penampilan produk yang bagus. Pada sesi pertemuan hari ini kami tidak dapat menyelesaikan produk tempat tisu yang sedang kami kerjakan sehingga proses pembuatannya dilanjutkan di sesi pertemuan berikutnya.

5.      Kegiatan daur ulang (membuat kerajinan dari sampah rumah tangga)
Hari: Selasa, 28 Maret 2017
Waktu: 13.00 - 14.00
Tempat: Komunitas WPL

                Pada hari terakhir,kami bersama bu Ros melanjutkan anyaman yang kemarin kami mulai. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat bungkus tissue ukuran kecil karena prosesnya lebih cepat dan lebih sedikit anyamannya. Kami membagi tugas dengan ada yang membuat bagian-bagian kecil dan ada yang menyambungkannya menjadi anyaman. Walaupun kami sedikit lupa cara untuk menganyamnya, bu Ros dengan sabar mengajarkan caranya kembali kepada kami sekaligus memeriksa hasil kerja kami dan memperbaikinya jika ada yang salah atau kurang pas. Namun, karena 2 anyaman tersebut sudah hampir selesai, kami menyelesaikannya selama kurang lebih 1 jam, sambil makan tahu bulat dan teh manis yang sudah disediakan bu Ros dan mengobrol tentang kegiatan sehari-hari bu Ros sebagai salah satu pengrajin dari Komunitas WPL. Setelah sedikit penyesuaian dan akhirnya lipatan terkahir dari anyaman tersebut akhirnya jadilah sarung untuk tisu tersebut yang berjumlah 2 buah. Setelah itu kami tidak lupa untuk berfoto terlebih dahulu sebelum pamit dan berterima kasih kepada bu Ros atas kesediaannya menerima kami.

HASIL
Dalam pertemuan tersebut, kami belajar banyak dan berhasil membuat bando, gantungan kunci, jepitan rambut dan cover tissue (panjang dan persegi). Dan dengan bimbingan Bu Ros yang dengan sabar mengajari kami beserta suguhan teh manis dan tahu bulat, kami berhasil menyelesaikan produk tepat waktu. Kami juga belajar untuk sabar dalam bekerja dan menikmati proses yang kami lewati dari belajar membuat pola hingga akhirnya bisa langsung membuat produk.

KESIMPULAN
Astari Aulianur Qonita:
Saya merasa sangat senang bisa menjadi bagian dari projek daur ulang ini, selain menambah pengetahuan saya tentang cara-cara untuk mendaur ulang sampah, saya juga menjadi lebih menghargai sampah plastic yang ada dirumah dan berusaha untuk mengurangi sampah plastic tersebut dengan cara menjadikan sampah tersebut menjadi barang yang lebih berguna. Saya sadar bahwa keahlian kecil seperti membuat prakarya, melipat, dan membuat pola merupakan keahlian yang tidak bisa diremehkan. Selama hal tersebut bisa membuat dunia lebih baik lagi tentunya dengan mengurangi sampah plastik dan memberdayakan keahlian yang dipunya tentunya akan sangat baik untuk dilestarikan.
            Saya rasa kelompok kami cukup baik dalam berpartisipasi di kegiatan ini walaupun ada yang datang telat sekali karena suatu kendala akan tetapi kelompok kami cukup antusias dan bisa bekerja sama untuk menyelesaikan produk.

Vanesha Christy:
Kesan saya selama menjalani kegiatan daur ulang bersama Bu Ros, saya merasa senang dan juga mendapat kan banyak pengetahuan baru tentang pentingnya dan caranya untuk mendaur ulang sampah dengan benar dan bahkan barang tersebut bias dipakai sendiri dan juga dijual.
Dari keseluruhan kegiatan daur ulang ini, saya merasa masih adanya kekurangan dari kelompok kami, seperti adanya individu yang datang terlambat dan hal tersebut menurut saya sangat tidak sopan. Namun dari sisi lain, setiap anggota kelompok cukup aktif dalam mengikuti kegiatan daur ulang ini.

Syafiq Ammar Izzudin:
             Saya telah melakukan suatu kegiatan yang memberikan banyak manfaat bagi diri saya. Kegiatan yang saya lakukan adalah mendaur ulang sampah yang saya lakukan selama 3 hari saat beberapa waktu lalu. Saya baru menyadari bahwa semua jenis sampah ternyata bukan sesuatu yang tidak berharga, ternyata beberapa jenis sampah dapat kita buat menjadi suatu karya kerajinan jika didaur ulang, memang tidak semua jenis sampah dapat di daur ulang seperti limbah yang mudah membusuk dan limbah yang beracun / berbahaya. Limbah yang didaur ulang saat kegiatan saya dari bekas bungkus kopi dan energen, karena bungkus ini terbuat dari plastik yang tidak mudah terurai sehingga dapat dijadikan bahan daur ulang. Kerajinan tersebut dijadikan tas, bandana, dsb yang cantic-cantik, seolah hasil tersebut tidak seperti dibuat dari barang bekas/sampah. Berawal mencoba-coba untuk mendaur ulang sampah menjadi suatu karya merupakan ide yang kreatif dan menginspirasi, sebab semakin banyak orang yang berpikir kreatif seperti ini akan menambah lapangan kerja baru dan agar orang-orang tidak memandang sampah sebelah mata. Kerajinan bukan hanya menjadi pajangan, namun juga dapat dijual dan menghasilkan uang, Melalui kegiatan yang lakukan ini saya memetik pelajaran yang berharga yaitu sampah dapat menghasilkan suatu karya besar yang menarik dengan cara mendaur ulang sampah yang tidak mudah terurai, dapat menghasilkan pendapatan dari penjualan kerajinan daur ulang, dan menjaga kelestarian lingkungan / mengurangi pencemaran lingkungan. Maka dari itu saya menyarankan untuk semua generasi bangsa untuk tidak gampang menganggap suatu hal itu kecil, justru dari hal yang kita anggap kecil ini bisa kita jadikan menjadi sesuatu yang menginspirasi banyak orang, jangan menganggap sampah hanya sebelah mata, jangan hanya menimbun sampah hingga bertumpuk menjadi tidak berguna tetapi jadikan sampah itu sebagai peluang dengan kita mengubahnya menjadi kerajinan.

Riandra Anggar Kusuma:

               Dengan ada nya kegiatan daur ulang ini, kita semua bisa belajar bahwa barang yang di anggap sampah seperti bungkus kopi atau pun bungkus minuman yang lainnya bisa di daur ulang dan menghasilkan kerajinan seperti gantungan kunci , tempat pensil , bando bahkan tas. Dan semua ini bisa kita jual dan dapat mengghasilkan uang. Dengan ada nya daur ulang ini di harapkan masyarakat mau lebih berkontrobusi untuk lingkungan sekitar terhadap masalah sampah.

Sigit Tri Sasongko:
            Menurut saya kegiatan yang telah kami lakukan beberapa pekan lalu sangat menginspirasi, karena kita bisa berpikir kreatif dengan sampah yang telah kita timbulkan selama ini. Bukan hanya untuk merawat bumi kita, daur ulang sampah juga bisa menghasilkan pundi2 uang yang lumayan besar apabila kita menekuni nya. Maka dari itu, saya ingin menyarankan pada kalian semua untuk lebih berpikir kreatif, tidak cuma menimbulkan sampah saja, tetapi kita juga bisa mengubah sampah itu menjadi uang sangat menjanjikan...^_^

Syarafina Tamara Avianti:
              Kesan saya selama kegiatan daur ulang di depok beberapa waktu yang lalu adalah saya jadi bisa belajar kerajinan tangan walaupun bagi saya sedikit rumit karena saya memang tidak jago dalam hal itu hehe dan mengetes kesabaran saya tapi kegiatannya tetap menyenangkan dan mengedukasi kalau sampah plastik lebih baik di daur ulang menjadi sebuah kerajinan tangan yang lumayan bisa untuk menghasilkan uang dari hasil jualan kerajinan tangan tersebut

Kresna Adjie Dewantara:
              Menurut saya kegiatan ini sangat berguna sekali, apalagi di lingkungan seperti ini. saya berharap masyarakt setempat dapat mendukung kegiatan daur ulang sampah ini

LAMPIRAN
Absen Jumat, 10 Maret 2017:
Astari Aulianur Qonita – hadir
Syarafina Tamara Avianti - hadir
Vanesha Christy - hadir
Sigit Tri Sasongko - hadir
Syafiq Ammar Izzudin - hadir
Riandra Anggar Kusuma - hadir
Kresna Adjie Dewantara – hadir


Absen Jum’at, 14 Maret 2017
Astari Aulianur Qonita – hadir
Syarafina Tamara Avianti - hadir
Vanesha Christy - hadir
Sigit Tri Sasongko - hadir
Syafiq Ammar Izzudin - hadir
Riandra Anggar Kusuma - hadir
Kresna Adjie Dewantara – hadir



 Absen Jum’at, 17 Maret 2017

Astari Aulianur Qonita – hadir

Syarafina Tamara Avianti - hadir
Vanesha Christy - hadir
Sigit Tri Sasongko - hadir
Syafiq Ammar Izzudin - hadir
Riandra Anggar Kusuma - hadir
Kresna Adjie Dewantara – hadir


Absen Kamis, 23 Maret 2017
Astari Aulianur Qonita – hadir
Syarafina Tamara Avianti - hadir
Vanesha Christy - hadir
Sigit Tri Sasongko - hadir
Syafiq Ammar Izzudin - hadir
Riandra Anggar Kusuma - hadir
Kresna Adjie Dewantara – hadir


Absen Selasa, 28 Maret 2017
Astari Aulianur Qonita – hadir
Syarafina Tamara Avianti - hadir
Vanesha Christy - hadir
Sigit Tri Sasongko - hadir
Syafiq Ammar Izzudin - hadir
Riandra Anggar Kusuma - hadir
Kresna Adjie Dewantara – hadir

     
10 Maret 2017
14 Maret 2017


17 Maret 2017
28 Maret 2017

23 Maret 2017

Kamis, 11 Mei 2017

Pertemuan Ke-4

CB Kewarganegaraan

Kegiatan Daur Ulang di Komunitas Warga Peduli Lingkungan (WPL)
Lokasi : Jl. Mahakam, Mampang, Pancoran MAS, Kota Depok, Jawa Barat 16433

Kelas : LF01
Dosen : NUAH P. TARIGAN & MURTY MAGDA PANE
Kode dosen : D3721 & D3371
Waktu : Kamis, 23 Maret 2017


Nama ketua kelompok : Astari Aulianur Qonita - hadir
Nama anggota Kelompok :

  1. Syarafina Tamara Avianti - hadir
  2. Vanesha Christy - hadir
  3. Sigit Tri Sasongko - hadir
  4. Syafiq Ammar Izzudin - hadir
  5. Riandra Anggar Kusuma - hadir
  6. Kresna Adjie Dewantara - hadir


Rangkaian Kegiatan

          Pada pertemuan ke-3 kami mulai membuat produk baru yaitu dengan menganyam sampah bungkus kopi yang dibuat untuk sarung tisu atau tas. Kami memulai pertemuan pada jam 1 siang karena pada pagi harinya Bu Ros harus menghadiri pengajian terlebih dahulu. Pertama-tama kami diajarkan cara untuk mencari sisi mana yang cocok untuk dibuat pola yang bagus, kemudian cara menggunting, mengganjalnya dengan kertas undangan yang sudah tidak terpakai, dan kemudian dilipat dengan rapih. Setelah itu kami diajarkan untuk menyambung potongan-potongan tersebut seperti foto dibawah. Untuk membuat 1 tas dibutuhkan kurang lebih 80-160 bungkus kopi. 
          Karena kami masih dalam proses belajar dan menganyam atau membuat kerajinan tangan termasuk hal baru bagi kami, maka prosesnya pun sedikit lambat. Berbeda dengan Bu Ros yang sudah cekatan dalam mencari pola, mengguntik, melipat, dan menyambungkan potongan-potongan tersebut. 2 jam pun sepertinya masih kurang untuk kami membuat 1 baris anyaman, karena dibutuhkan ketepatan ukuran yang mungkin paling sulit untuk dibuat dalam proses ini. Karena jika ukurannya tidak sama, hal tersebut dalam mempengaruhi kerapihan serta penampilan produk yang bagus. Pada sesi pertemuan hari ini kami tidak dapat menyelesaikan produk tempat tisu yang sedang kami kerjakan sehingga proses pembuatannya dilanjutkan di sesi pertemuan berikutnya.


     

Pertemuan 1 - Survey

CB Kewarganegaraan

Kegiatan Daur Ulang di Komunitas Warga Peduli Lingkungan (WPL)
Lokasi : Jl. Mahakam, Mampang, Pancoran MAS, Kota Depok, Jawa Barat 16433

Kelas : LF01
Dosen : NUAH P. TARIGAN & MURTY MAGDA PANE
Kode dosen : D3721 & D3371
Waktu : Jumat, 10 Maret 2017


Nama ketua kelompok : Astari Aulianur Qonita - hadir
Nama anggota Kelompok :

  1. Syarafina Tamara Avianti - hadir
  2. Vanesha Christy - hadir
  3. Sigit Tri Sasongko - hadir
  4. Syafiq Ammar Izzudin - hadir
  5. Riandra Anggar Kusuma - hadir
  6. Kresna Adjie Dewantara - hadir


Rangkaian Kegiatan





Kami datang berkunjung ke rumah Pak Baron untuk yang pertama kalinya untuk survey lokasi dan perijinan. Pada awalnya kami sedikit tersesat karena mengikuti jalan yang salah di google maps, akan tetapi setelah kami menelpon pak Baron dan mengkonfirmasi lokasi yang benar, baru akhirnya kami sampai ketempat tujuan. Sesampainya disana kami memperkenalkan diri lalu menjelaskan maksud kedatangan kami. Pak Baron juga menjelaskan tentang kegiatan apa saja yang ada di komunitas ini serta menampilkan video profile tentang Komunitas WPL agar kami dapat lebih memahami tentang komunitas ini

Apa itu Komunitas WPL ?

Komunitas ini awalnya ingin memberdayakan kemampuan atau skill yang dimiliki oleh ibu rumah tangga yang ada di sekitar rumahnya. Tujuan asli dari dibentuknya komunitas ini adalah ingin merubah perilaku masyarakat agar lebih peduli dengan lingkungan dan menjadi lebih produktif dengan cara mendaur ulang sampah-sampah plastik rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai dan bisa bermanfaat. Selain mendaur ulang, komunitas ini juga memiliki kegiatan lain seperti, mengadakan taman baca di taman kota dan membuat makanan.

Setelah kami menjelaskan maksud kedatangan kami dan setelah Pak Baron menjelaskan tentang kegiatan apa saja yang ada di komunitas ini, kami kemudian diberikan info tentang pengrajin yang aktif yang dapat kami hubungi untuk langsung membuat janji bertemu. Kami juga diberitahu bahwa pada hari Selasa, 14 Maret 2017, akan ada acara sosialisasi tentang daur ulang di SDIT Darul Abiddin pada pukul 9-12 siang, dan Pak Barun mengundang kami untuk ikut dalam kegiatan tersebut.







Senin, 20 Maret 2017

Proposal

CB Kewarganegaraan

Kegiatan Daur Ulang di Komunitas Warga Peduli Lingkungan (WPL)

Bagian Awal

Kelas : LF01
Dosen : NUAH P. TARIGAN & MURTY MAGDA PANE
Kode dosen : D3721 & D3371

Lokasi : Jl. Mahakam, Mampang, Pancoran MAS, Kota Depok, Jawa Barat 16433

Anggota kelompok :
Astari Aulianur Qonita
Syarafina Tamara Avianti
Vanesha Christy
Sigit Tri Sasongko
Syafiq Ammar Izzudin
Riandra Anggar Kusuma
Kresna Adjie Dewantara